Bandung Raya berdiri pada tahun 1987 dengan nama awal UNI (Uitspanning Na Inspanning). Di tahun itu juga UNI berencana untuk mengikuti kompetisi galatama bersama 5 tim lainnya yaitu Medan Jaya, Lampung Putra, Arema Malang, Palu Putra dan Pusri Palembang. Dalam konteks sepak bola profesional, UNI bukanlah klub profesional
pertama di Bandung. Sebelumnya, Sari Bumi Raya sempat membentuk klub
profesionalnya untuk mengikuti Kompetisi Galatama 1979/1980. Sari Bumi
Raya (amatir) sendiri berdiri pada tanggal 10 Juni 1976. Setelah Sari
Bumi Raya pindah ke Yogyakarta dan akhirnya membubarkan diri, Bandung
pun dihadiri klub profesional baru, yaitu Tempo Utama. Namun, Tempo
Utama ini dianggap sebagai klub dari Jakarta. Tercatat, Tempo Utama ini
merupakan “adik kandung”-nya Tunas Inti. Nah, selepas Sari Bumi Raya dan
Tempo Utama inilah, UNI dilahirkan untuk mengisi kekosongan klub
profesional asal Bandung.
Sebagai anggota baru Galatama, UNI dan klub-klub baru lainnya (Medan
Jaya, Pusri, Lampung Putra, Arema, dan Palu Putra) harus mengikuti
“pemanasan” terlebih dahulu dalam turnamen segitiga, yaitu Lampung
Putra, Warna Agung, dan UNI (di Bandar Lampung), Medan Jaya, Semen
Padang, dan Pusri (di Medan), serta Perkesa ’78, Arema, dan Palu Putra
(di Malang). Sebagai catatan, Semen Padang, Perkesa ’78, dan Warna Agung
merupakan klub-klub berperingkat terbawah dalam Kompetisi Galatama
1986/1987 (baca juga: Tunas Inti sudah mundur). Namun demikian,
berdasarkan Rapat Anggota Galatama tertanggal 23 Agustus 1987, klub-klub
baru tersebut belum tentu mengikuti Kompetisi Galatama 1987/1988 kalau
prestasinya buruk. Oh ya, khususnya untuk Arema dan Palu Putra, akhirnya
kedua klub ini “dibebaskan dari pemanasan” karena keikutsertaannya di
Piala Bentoel 1987 dianggap sudah memadai sebagai uji coba.
Dalam debut setelah kelahirannya, UNI yang diasuh oleh Pelatih Soenarto
Soendoro melakukan pertandingan uji coba melawan SIDOLIG, klub intern
anggota Persib lainnya. Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion
Persib (Kamis, 3 September 1987) itu, UNI yang dalam pertandingan ini
sudah memakai nama Bandung Raya berhasil mengalahkan SIDOLIG
3-0. Menurut Ketua Umum Bandung Raya, Syamsudin Curita, perubahan nama
UNI menjadi Bandung Raya itu agar masyarakat Bandung tidak merasa
bingung mana UNI amatir dan mana pula UNI profesional.
Pada acaran syukuran berdirinya Bandung Raya di Sekretariat Bandung Raya
di Jalan Pucung No. 17 Kota Bandung (Kamis, 1 Oktober 1987), Pelatih
Bandung Raya Risnandar Soendoro mengungkapkan target Bandung Raya
menempati papan tengah. Pada masa ini, skuad Bandung Raya terdiri dari:
Armand, Ukut, Tatang (penjaga gawang), Amak, Edy, Dedi Akhmad, Iqnas,
Deni Toto, Agus Salam, Ayi Risnawan (Bandung), Abidin, Sanija
(Majalengka), Komarudin, Ade Lesmana, Yaya (Kuningan), Endang
(Sukabumi), dan M. Heri Setiawan (Cirebon).
Dalam debutnya di Kompetisi Galatama (1987/1988) di Stadion Siliwangi
Bandung (Minggu, 4 Oktober 1987), Bandung Raya berhasil mengalahkan
Lampung Putra 2-0 melalui gol Abidin (menit 27) dan Toto (66). Sayang,
sampai berakhirnya kompetisi, Bandung Raya belum memperlihatkan prestasi
yang menjanjikan. Bandung Raya harus puas menempati peringkat ke-14
atau juru kunci dalam Kompetisi Galatama 1987/1988.
Sebelumnya, kepemimpinan Bandung Raya sempat diserahterimakan dari
Syamsudin Curita ke Soehoed W.P. di Sekretariat Bandung Raya di Jalan
Pucung No. 17 Kota Bandung, Selasa, 1 Maret 1988 meskipun pengunduran
dirinya secara resmi sudah terjadi pada bulan Desember 1987. Selain
dirinya, turut pula para pelopor Bandung Raya lainnya yaitu H.R.A.
Marzuki dan Nugraha Besoes.
Selepas Kompetisi Galatama 1987/1988, Bandung Raya pun mengikuti Piala
Liga 1988. Dalam Piala Liga Milo edisi IV ini, Bandung Raya sudah
diperkuat oleh Dadang Kurnia (Persib). Namun, status Dadang Kurnia masih
menjadi pemain tamu. Ya, sejak Piala Liga 1988 ini, memang ada
kebijakan bahwa peserta Piala Liga boleh merekrut pemain tamu. Dalam
perkembangannya, Dadang Kurnia pun menjadi bagian Bandung Raya di
Kompetisi Galatama 1988/1989. Sementara dalam Piala Liga 1988itu sendiri
Bandung Raya belum memperlihatkan prestasi terbaiknya.
Memasuki Kompetisi Galatama 1988/1989, Bandung Raya yang masih dilatih
oleh Risnandar Soendoro mulai diperkuat Dadang Kurnia dan Dede Iskandar.
Dari namanya, kedua pemain ini berasal dari Persib. Dalam Kompetisi
Galatama 1988/1989 inilah Bandung Raya mulai memperlihatkan prestasinya.
dengan menempati peringkat ke-7 dari 18 peserta. Bukan itu saja.
Faktanya, Dadang Kurnia (dan Mecky Tata dari Arema) menjadi topscorer
Kompetisi Galatama 1988/1989 dengan 18 gol. Bahkan, di akhir kompetisi,
Bandung Raya dinobatkan sebagai tim favorit Kompetisi Galatama
1988/1989. Satu lagi, di Bandung Raya-lah Dadang Kurnia dan Dede
Iskandar dilirik timnas Indonesia.
Tampaknya, prestasi itu masih membawa berkah pada Bandung Raya.
Satu-satunya gelar juara bagi Bandung Raya adalah ketika menjuarai Piala
IPHI I/1989 di Surabaya (vs Arema 1-0) meskipun di Piala IPHI II/1990
harus puas menempati peringkat ke-3.
Setelah di Piala Liga 1988 diperkuat Dadang Kurnia sebagai pemain tamu,
di Piala Liga 1989, Yusuf Bachtiar (Persib) pun berkesempatan untuk
menjadi pemain tamu. Bedanya, Yusuf Bachtiar kembali ke Persib,
sedangkan Dadang Kurnia tetap berkiprah di Bandung Raya. Memasuki
Kompetisi Galatama 1990 itulah Soenarto Soendoro kembali menjadi pelatih
Bandung Raya. Meskipun di awal-awal kepemimpinannya di Bandung Raya
meraih prestasi terbaik di Piala IPHI tadi, Bandung Raya justru
terseok-seok di Kompetisi Galatama. Bandung Raya pun menempati peringkat
ke-17 dari 18 peserta. Namun demikian, Soenarto Soendoro masih tetap
dipercaya sebagai pelatih Bandung Raya di Kompetisi Galatama
periode-periode berikutnya, termasuk Ishak Udin yang diberi kesempatan
selama tiga bulan.
Dalam perkembangannya, kursi kepelatihan Bandung Raya pun pindah kepada
Parhim (Kompetisi Galatama 1992/1993) dan Nandar Iskandar (Kompetisi
Galatama 1993/1994). Sayangnya, prestasi Bandung Raya belum kunjung
membaik. Bahkan sebelum era Liga Indonesia ramai dibicarakan, Bandung
Raya dikabarkan akan membubarkan diri karena kesulitan keuangan. Hal
serupa dialami oleh klub-klub Galatama lainnya, termasuk Arema.
Nasib baik tampaknya masih menaungi Bandung Raya. Di akhir-akhir sekarat
itulah, Ketua Umum Komda (kini, Pengda, lalu Pengprov) PSSI Jawa Barat
1992-1996, Ukman Sutaryan membantu Bandung Raya Rp 1 Milyar. Bandung
Raya pun hidup kembali dan sempat mengikuti Liga Indonesia 1994/1995.
Dampaknya, di Bandung memang sudah ada dua klub hebat: Persib dan
Bandung Raya. Apalagi, Persib masih memiliki masa keemasannya. Jika
tidak, maka ceritanya akan lain. Seiring dengan kehebatan Bandung Raya,
setiap Persib atau Bandung Raya bertanding, Stadion Siliwangi selalu
penuh dengan pendukung mereka, kecuali satu pertandingan. Apa itu? Ya,
tentu saja ketika Persib vs Bandung Raya, hampir 90-99 persen yang
datang ke Stadion Siliwangi, penontonnya adalah pendukung Persib. Hal
ini karena Persib menang sejarah.
Di Liga Indonesia 1994/1995 itu, ada nama-nama tenar dalam blantika
sepak bola nasional saat itu. Tercatat nama-nama seperti Hermansyah
(penjaga gawang), Herry Kiswanto, Ferry Sandria, Rehmalem
Perangin-angin, dan Ma’mun Adnan. Sayang, dalam Liga Indonesia 1994/1995
itu, Bandung Raya yang diasuh Pelatih Nandar Iskandar gagal mewujudkan
All Bandung Final bersama Persib dalam babak final Liga Indonesia edisi
perdana tersebut. Namun demikian, gelar topscorer jatuh kepada
pemainnya, Peri Sandria dengan 34 gol. Sampai saat ini, jumlah gol
tersebut belum mampu dilewati oleh siapa pun.
Kemudian, setelah beberapa pertandingan di Liga Indonesia 1995/1996,
muncullah ketegasan merger dengan Mastrans (Masyarakat Transportasi).
Akhirnya, merger itu berhasil dan melahirkan nama Mastrans Bandung Raya.
Pada Liga Indonesia 1995/1996 inilah Mastrans Bandung Raya yang dilatih
Henk Wullems berhasil menjadi juara setelah mengalahkan PSM Makassar
2-0. Tidak lupa, salah seorang pemainnya, Dejan Gluscevic meraih
topscorer dengan 31 gol.
Memasuki Liga Indonesia 1996/1997, merger itu disebut-sebut akan
berakhir. Ya, Mastrans pun beralih ke Jakarta untuk merger bersama
Pelita Jaya. Namanya pun Pelita Mastrans. Meskipun demikian, Bandung
Raya (tanpa Mastrans) yang masih diasuh Henk Wullems sempat menikmati
babak final Liga Indonesia 1996/1997 ketika berhadapan dengan Persebaya.
Di babak final Liga Indonesia 1996/1997 itu, Bandung Raya harus
mengakui The Dream Team Persebaya 1-3. Meskipun demikian, nama Nuralim
(Bandung Raya) dinobatkan sebagai pemain terbaik.
Setelah itu, riwayat Bandung Raya pun berakhir. Bubar. Entah karena
kecewa pada peristiwa di Piala Winners Asia, entah karena krisis moneter
di Asia (Indonesia) sejak pertengahan bulan Juli 1997. Pokoknya mirip
kisah Kramayudha Tiga Berlian, yaitu entah kecewa pada peristiwa Piala
Winners Asia atau memang karena bisnis Sjarnoebi Said sedang mengalami
masalah.
Setelah “mati”, kelak, nama Bandung Raya muncul lagi di Divisi III Liga
Indonesia 2007. Pada masa ini, Bandung Raya tertahan di babak penyisihan
Divisi III Liga Indonesia 2007 Zona Jawa Barat setelah di Grup A yang
berlangsung di Stadion Galuh, Kabupaten Ciamis, kalah 0-3 dari PSGC
Ciamis (Minggu, 1 April 2007), kalah 1-8 dari Persikotas Tasikmalaya
(Selasa, 3 April 2007), dan menang 5-1 atas Perssi Sukabumi (Kamis, 5
April 2007). Meskipun sempat mencatat kemenangan telak, Bandung Raya
harus puas menempati pringkat juru kunci Grup A.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar